Inside Me
awan, langit, hujan, coffe, gunung,
(via akhlaqulaul)
Karena Bersama Gak Harus Sama
Sebenarnya yang sama omongkan ini tentang gunung. Rencananya sih tanggal 18-19 mei mau ke Merapi. Ini pendakian ke dua saya ke Merapi. Enaknya naik gunung itu kita bisa bertemu berbagai macam manusia dengan berbagai tujuannya. Secara fisik memang setiap pendaki tujuannya puncak tapi selain puncak sebenarnya setiap pendaki punya misi pribadi. Di gunung saya bertemu manusia dengan berbagai macam misi pribadi.
Ada pendaki yang ke gunung karena ingin memperingati kebebasannya. di merbabu tepat saya bertemu bapak-bapak dari mojosongo solo. setelah ngobrol basabasi bentar ternyata bapak itu mendaki merbabu untuk merayakan 3th dia berhenti jadi karyawan suatu Bank swasta kemudian bapaknya mulai wirausaha berjualan es untuk memenuhi kebutuhan istri-dan anaknya sampai akhirnya usahanya sukses. Mau jadi Pemimpin atau Pengikut itu semua pilihan kita.
Ada pendaki karena kecanduan yang berlebihan terhadap gunung. seorang mas-mas dan kelompoknya. Berambut gondrong, kurus kering, dengan baju singlet kucel serta rokok yang selalu ditangan. Saya menyebutnya kecanduan gunung, karena dari crita-critanya dia bahkan tidak mempedulikan urusan yang lain selain obsesinya menaklukan puncak-puncak gunung. Apapun yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. -,-
Ada yang naik gunung karena ingin dapet ilmu. tepatnya di lawu dipendakian pertama, bertemu bapak dan anak laki-lakinya, dari cerita si bapak, dia dan anaknya sengaja jalan kaki dari kota kediri *kalau tidak salah inget, sengaja ke gunung lawu untuk mengajarkan “ilmu”.
Ada yang naik gunung karena kena sindrom 5cm. Banyak manusia lebay dan abg alay mendaki gunung dengan dandan yang lebih pantes mendaki mall daripada gunung pengen nyoba naik gunung setelah nonton 5cm. Lihat pevita yang masih tetep cantik dengan rambut berkibar-kibar kaya habis krimbat di salon, dikira gunung seremeh itu. Habis lihat genta nyatain cinta ke riani di gunung terlihat lebih romantis pengen ikut-ikutan kaya gitu juga. Ya dengan resiko kalau ditolak terusan mental gak kuat banyak jurang yang siap menampung.
Macem-macem deh orang yang bakalan ditemui di sepanjang perjalanan. Kalau saya sendiri tujuan naik gunung, untuk refreshing. Penat dengan persoalan Hidup, mungkin tempat pelarian yang tepat selain masjid adalah gunung.Hahaa… yah..secara mau ke laut juga takut tenggelam, kan gak bisa renang.
Hidup orang itu tidak mungkin tertukar, tidak usah terlalu dirisaukan diyakini saja semua sudah diatur sesuai dengan kadarnya. itu pekiran positif yang dipaksakan muncul saat sesuatu yang negatif terjadi.
Sindrom pra perpisahan mulai melanda. Entah kapan bisa bertemu (lagi)? lima tahun itu bukan waktu yang singkat, mau berpisah sekarang atau besok itu cuma masalah waktu pada akhirnya semua akan cabs dari sini sampai tak tersisa. Meninggalkan ataupun ditinggalkan itu sama saja rasanya, sama-sama sepi.
masa perkuliahan yang nyupruss.. tiap ujian ngetag tempat duduk(deket yulian), tiap ada tugas ngumpul di kosan temen(kosannya maya), pertanyaan yang pasti keluar adalah “maem neng endi?” dan jawabannya pasti “terserah”,”manut”….hal-hal sepele seperti itu saja tidak mungkin terulang.
Green house, kosan berasa rumah sendiri, sedangkan di rumah sendiri saya lebih mirip tamu secara beberapa hari di rumah dan berhari-hari di kosan. Penghuni di GH sudah kaya saudara sendiri. berbeda-beda bahasa tapi tetap satu atap.
(Source: uuphii, via pradityaningsih)
(via ragilliarach)
(Source: yasirmukhtar, via kuntawiaji)